Senin, 31 Desember 2012

 

PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP EKSISTENSI KEBUDAYAAN DAERAH

 

Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah SOSBUD
Dosen Pengampu : Bp. Masroer
                                   





Disusun Oleh:
Nama               : Panji Siyamto
NIM                : 09540019



PROGRAM STUDI SOSIOLOGI AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN, STUDI AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM
UNIVERSITAS SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2011
BAB I
 PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global itu. Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi ini. Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting kehidupan.
Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab, dipecahkan dalam upaya memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan kehidupan. Globalisasi sendiri merupakan sebuah istilah yang muncul sekitar dua puluh tahun yang lalu, dan mulai begitu populer sebagai ideologi baru sekitar lima atau sepuluh tahun terakhir. Sebagai istilah, globalisasi begitu mudah diterima atau dikenal masyarakat seluruh dunia. Wacana globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara mendasar.
Globalisasi sering diperbincangkan oleh banyak orang, mulai dari para pakar ekonomi, sampai penjual iklan. Dalam kata globalisasi tersebut mengandung suatu pengetian akan hilangnya satu situasi dimana berbagai pergerakan barang dan jasa antar negara diseluruh dunia dapat bergerak bebas dan terbuka dalam perdagangan. Dan dengan terbukanya satu negara terhadap negara lain, yang masuk bukan hanya barang dan jasa, tetapi juga teknologi, pola konsumsi, pendidikan, nilai budaya dan lain-lain. Konsep akan globalisasi menurut Robertson (1992), mengacu pada penyempitan dunia secara insentif dan peningkatan kesadaran kita akan dunia, yaitu semakin meningkatnya koneksi global dan pemahaman kita akan koneksi tersebut. Di sini penyempitan dunia dapat dipahami dalam konteks institusi modernitas dan intensifikasi kesadaran dunia dapat dipersepsikan refleksif dengan lebih baik secara budaya. Globalisasi memiliki banyak penafsiran dari berbagai sudut pandang. Sebagian orang menafsirkan globalisasi sebagai proses pengecilan dunia atau menjadikan dunia sebagaimana layaknya sebuah perkampungan kecil. Sebagian lainnya menyebutkan bahwa globalisasi adalah upaya penyatuan masyarakat dunia dari sisi gaya hidup, orientasi, dan budaya. Pengertian lain dari globalisasi seperti yang dikatakan oleh Barker (2004) adalah bahwa globalisasi merupakan koneksi global ekonomi, sosial, budaya dan politik yang semakin mengarah ke berbagai arah di seluruh penjuru dunia dan merasuk ke dalam kesadaran kita. Produksi global atas produk lokal dan lokalisasi produk global Globalisasi adalah proses dimana berbagai peristiwa, keputusan dan kegiatan di belahan dunia yang satu dapat membawa konsekuensi penting bagi berbagai individu dan masyarakat di belahan dunia yang lain.(A.G. Mc.Grew, 1992). Proses perkembangan globalisasi pada awalnya ditandai kemajuan bidang teknologi informasi dan komunikasi. Bidang tersebut merupakan penggerak globalisasi.
Dari kemajuan bidang ini kemudian mempengaruhi sektor-sektor lain dalam kehidupan, seperti bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain. Contoh sederhana dengan teknologi internet, parabola dan TV, orang di belahan bumi manapun akan dapat mengakses berita dari belahan dunia yang lain secara cepat. Hal ini akan terjadi interaksi antarmasyarakat dunia secara luas, yang akhirnya akan saling mempengaruhi satu sama lain, terutama pada kebudayaan daerah,seperti kebudayaan gotong royong,menjenguk tetangga sakit dan lain-lain. Globalisasi juga berpengaruh terhadap pemuda dalam kehidupan sehari-hari, seperti budaya berpakaian, gaya rambut dan sebagainya











BAB II
PEMBAHASAN
A. GLOBALISASI DAN BUDAYA
Gaung globalisasi, yang sudah mulai terasa sejak akhir abad ke-20, telah membuat masyarakat dunia, termasuk bangsa Indonesia harus bersiap-siap menerima kenyataan masuknya pengaruh luar terhadap seluruh aspek kehidupan bangsa. Salah satu aspek yang terpengaruh adalah kebudayaan. Terkait dengan kebudayaan, kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Atau kebudayaan juga dapat didefinisikan sebagai wujudnya, yang mencakup gagasan atau ide, kelakuan dan hasil kelakuan (Koentjaraningrat), dimana hal-hal tersebut terwujud dalam kesenian tradisional kita. Oleh karena itu nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan atau psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan Bagi bangsa Indonesia aspek kebudayaan merupakan salah satu kekuatan bangsa yang memiliki kekayaan nilai yang beragam, termasuk keseniannya. Kesenian rakyat, salah satu bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia tidak luput dari pengaruh globalisasi.
Globalisasi dalam kebudayaan dapat berkembang dengan cepat, hal ini tentunya dipengaruhi oleh adanya kecepatan dan kemudahan dalam memperoleh akses komunikasi dan berita namun hal ini justru menjadi bumerang tersendiri dan menjadi suatu masalah yang paling krusial atau penting dalam globalisasi, yaitu kenyataan bahwa perkembangan ilmu pengertahuan dikuasai oleh negara-negara maju, bukan negara-negara berkembang seperti Indonesia. Mereka yang memiliki dan mampu menggerakkan komunikasi internasional justru negara-negara maju. Akibatnya, negara-negara berkembang, seperti Indonesia selalu khawatir akan tertinggal dalam arus globalisai dalam berbagai bidang seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, termasuk kesenian kita. Wacana globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara mendasar.
Komunikasi dan transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh. Simon Kemoni, sosiolog asal Kenya mengatakan bahwa globalisasi dalam bentuk yang alami akan meninggikan berbagai budaya dan nilai-nilai budaya. Dalam proses alami ini, setiap bangsa akan berusaha menyesuaikan budaya mereka dengan perkembangan baru sehingga mereka dapat melanjutkan kehidupan dan menghindari kehancuran. Tetapi, menurut Simon Kimoni, dalam proses ini, negara-negara harus memperkokoh dimensi budaya mereka dan memelihara struktur nilai-nilainya agar tidak dieliminasi oleh budaya asing. Dalam rangka ini, berbagai bangsa haruslah mendapatkan informasi ilmiah yang bermanfaat dan menambah pengalaman mereka. Terkait dengan seni dan budaya, Seorang penulis asal Kenya bernama Ngugi Wa Thiong’o menyebutkan bahwa perilaku dunia Barat, khususnya Amerika seolah-olah sedang melemparkan bom budaya terhadap rakyat dunia. Mereka berusaha untuk menghancurkan tradisi dan bahasa pribumi sehingga bangsa-bangsa tersebut kebingungan dalam upaya mencari indentitas budaya nasionalnya. Penulis Kenya ini meyakini bahwa budaya asing yang berkuasa di berbagai bangsa, yang dahulu dipaksakan melalui imperialisme, kini dilakukan dalam bentuk yang lebih luas dengan nama globalisasi.
B. GLOBALISASI DALAM KEBUDAYAAN TRADISIONAL DI INDONESIA
Proses saling mempengaruhi adalah gejala yang wajar dalam interaksi antar masyarakat. Melalui interaksi dengan berbagai masyarakat lain, bangsa Indonesia ataupun kelompok-kelompok masyarakat yang mendiami nusantara (sebelum Indonesia terbentuk) telah mengalami proses dipengaruhi dan mempengaruhi. Kemampuan berubah merupakan sifat yang penting dalam kebudayaan manusia. Tanpa itu kebudayaan tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang senantiasa berubah. Perubahan yang terjadi saat ini berlangsung begitu cepat. Hanya dalam jangka waktu satu generasi banyak negara-negara berkembang telah berusaha melaksanakan perubahan kebudayaan, padahal di negara-negara maju perubahan demikian berlangsung selama beberapa generasi. Pada hakekatnya bangsa Indonesia, juga bangsa-bangsa lain, berkembang karena adanya pengaruh-pengaruh luar.
Kemajuan bisa dihasilkan oleh interaksi dengan pihak luar, hal inilah yang terjadi dalam proses globalisasi. Oleh karena itu, globalisasi bukan hanya soal ekonomi namun juga terkait dengan masalah atau isu makna budaya dimana nilai dan makna yang terlekat di dalamnya masih tetap berarti.. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk dalam berbagai hal, seperti anekaragaman budaya, lingkungan alam, dan wilayah geografisnya. Keanekaragaman masyarakat Indonesia ini dapat dicerminkan pula dalam berbagai ekspresi keseniannya. Dengan perkataan lain, dapat dikatakan pula bahwa berbagai kelompok masyarakat di Indonesia dapat mengembangkan keseniannya yang sangat khas. Kesenian yang dikembangkannya itu menjadi model-model pengetahuan dalam masyarakat.

C. PERUBAHAN BUDAYA DALAM GLOBALISASI ; KESENIAN YANG BERTAHAN DAN YANG TERSISIHKAN
Perubahan budaya yang terjadi di dalam masyarakat tradisional, yakni perubahan dari masyarakat tertutup menjadi masyarakat yang lebih terbuka, dari nilai-nilai yang bersifat homogen menuju pluralisme nilai dan norma social merupakan salh satu dampak dari adanya globalisasi. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia secara mendasar.
Komunikasi dan sarana transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh. Misalnya saja khusus dalam bidang hiburan massa atau hiburan yang bersifat masal, makna globalisasi itu sudah sedemikian terasa. Sekarang ini setiap hari kita bisa menyimak tayangan film di tv yang bermuara dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea, dll melalui stasiun televisi di tanah air. Belum lagi siaran tv internasional yang bisa ditangkap melalui parabola yang kini makin banyak dimiliki masyarakat Indonesia. Sementara itu, kesenian-kesenian populer lain yang tersaji melalui kaset, vcd, dan dvd yang berasal dari manca negara pun makin marak kehadirannya di tengah-tengah kita.
Fakta yang demikian memberikan bukti tentang betapa negara-negara penguasa teknologi mutakhir telah berhasil memegang kendali dalam globalisasi budaya khususnya di negara ke tiga. Peristiwa transkultural seperti itu mau tidak mau akan berpengaruh terhadap keberadaan kesenian kita. Padahal kesenian tradisional kita merupakan bagian dari khasanah kebudayaan nasional yang perlu dijaga kelestariannya. Di saat yang lain dengan teknologi informasi yang semakin canggih seperti saat ini, kita disuguhi oleh banyak alternatif tawaran hiburan dan informasi yang lebih beragam, yang mungkin lebih menarik jika dibandingkan dengan kesenian tradisional kita.
Dengan parabola masyarakat bisa menyaksikan berbagai tayangan hiburan yang bersifat mendunia yang berasal dari berbagai belahan bumi. Kondisi yang demikian mau tidak mau membuat semakin tersisihnya kesenian tradisional Indonesia dari kehidupan masyarakat Indonesia yang sarat akan pemaknaan dalam masyarakat Indonesia. Misalnya saja bentuk-bentuk ekspresi kesenian etnis Indonesia, baik yang rakyat maupun istana, selalu berkaitan erat dengan perilaku ritual masyarakat pertanian. Dengan datangnya perubahan sosial yang hadir sebagai akibat proses industrialisasi dan sistem ekonomi pasar, dan globalisasi informasi, maka kesenian kita pun mulai bergeser ke arah kesenian yang berdimensi komersial. Kesenian-kesenian yang bersifat ritual mulai tersingkir dan kehilangan fungsinya. Sekalipun demikian, bukan berarti semua kesenian tradisional kita lenyap begitu saja. Ada berbagai kesenian yang masih menunjukkan eksistensinya, bahkan secara kreatif terus berkembang tanpa harus tertindas proses modernisasi. Pesatnya laju teknologi informasi atau teknologi komunikasi telah menjadi sarana difusi budaya yang ampuh, sekaligus juga alternatif pilihan hiburan yang lebih beragam bagi masyarakat luas. Akibatnya masyarakat tidak tertarik lagi menikmati berbagai seni pertunjukan tradisional yang sebelumnya akrab dengan kehidupan mereka. Misalnya saja kesenian tradisional wayang orang Bharata, yang terdapat di Gedung Wayang Orang Bharata Jakarta kini tampak sepi seolah-olah tak ada pengunjungnya. Hal ini sangat disayangkan mengingat wayang merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional Indonesia yang sarat dan kaya akan pesan-pesan moral, dan merupakan salah satu agen penanaman nilai-nilai moral yang baik, menurut saya. Contoh lainnya adalah kesenian Ludruk yang sampai pada tahun 1980-an masih berjaya di Jawa Timur sekarang ini tengah mengalami “mati suri”. Wayang orang dan ludruk merupakan contoh kecil dari mulai terdepaknya kesenian tradisional akibat globalisasi. Bisa jadi fenomena demikian tidak hanya dialami oleh kesenian Jawa tradisional, melainkan juga dalam berbagai ekspresi kesenian tradisional di berbagai tempat di Indonesia. Sekalipun demikian bukan berarti semua kesenian tradisional mati begitu saja dengan merebaknya globalisasi.
Di sisi lain, ada beberapa seni pertunjukan yang tetap eksis tetapi telah mengalami perubahan fungsi. Ada pula kesenian yang mampu beradaptasi dan mentransformasikan diri dengan teknologi komunikasi yang telah menyatu dengan kehidupan masyarakat, misalnya saja kesenian tradisional “Ketoprak” yang dipopulerkan ke layar kaca oleh kelompok Srimulat. Kenyataan di atas menunjukkan kesenian ketoprak sesungguhnya memiliki penggemar tersendiri, terutama ketoprak yang disajikan dalam bentuk siaran televisi, bukan ketoprak panggung. Dari segi bentuk pementasan atau penyajian, ketoprak termasuk kesenian tradisional yang telah terbukti mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Selain ketoprak masih ada kesenian lain yang tetap bertahan dan mampu beradaptasi dengan teknologi mutakhir yaitu wayang kulit. Beberapa dalang wayang kulit terkenal seperti Ki Manteb Sudarsono dan Ki Anom Suroto tetap diminati masyarakat, baik itu kaset rekaman pementasannya, maupun pertunjukan secara langsung. Keberanian stasiun televisi Indosiar yang sejak beberapa tahun lalu menayangkan wayang kulit setiap malam minggu cukup sebagai bukti akan besarnya minat masyarakat terhadap salah satu khasanah kebudayaan nasional kita. Bahkan Museum Nasional pun tetap mempertahankan eksistensi dari kesenian tradisonal seperti wayang kulit dengan mengadakan pagelaran wayang kulit tiap beberapa bulan sekali dan pagelaran musik gamelan tiap satu minggu atau satu bulan sekali yang diadakan di aula Kertarajasa, Museum Nasional.
D. PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP BUDAYA BANGSA
Arus globalisasi saat ini telah menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan budaya bangsa Indonesia. Derasnya arus informasi dan telekomunikasi ternyata menimbulkan sebuah kecenderungan yang mengarah terhadap memudarnya nilai-nilai pelestarian budaya. Perkembangan 3T (Transportasi, Telekomunikasi, dan Teknologi) mengkibatkan berkurangnya keinginan untuk melestarikan budaya negeri sendiri. Budaya Indonesia yang dulunya ramah-tamah, gotong royong dan sopan berganti dengan budaya barat, misalnya pergaulan bebas. Di Tapanuli (Sumatera Utara) misalnya, duapuluh tahun yang lalu, anak-anak remajanya masih banyak yang berminat untuk belajar tari tor-tor dan tagading (alat musik batak). Hampir setiap minggu dan dalam acara ritual kehidupan, remaja di sana selalu diundang pentas sebagai hiburan budaya yang meriah. Saat ini, ketika teknologi semakin maju, ironisnya kebudayaan-kebudayaan daerah tersebut semakin lenyap di masyarakat, bahkan hanya dapat disaksikan di televisi dan Taman Mini Indonesi Indah (TMII).
Padahal kebudayaan-kebudayaan daerah tersebut, bila dikelola dengan baik selain dapat menjadi pariwisata budaya yang menghasilkan pendapatan untuk pemerintah baik pusat maupun daerah, juga dapat menjadi lahan pekerjaan yang menjanjikan bagi masyarakat sekitarnya. Hal lain yang merupakan pengaruh globalisasi adalah dalam pemakaian bahasa indonesia yang baik dan benar (bahasa juga salah satu budaya bangsa). Sudah lazim di Indonesia untuk menyebut orang kedua tunggal dengan Bapak, Ibu, Pak, Bu, Saudara, Anda dibandingkan dengan kau atau kamu sebagai pertimbangan nilai rasa. Sekarang ada kecenderungan di kalangan anak muda yang lebih suka menggunakan bahasa Indonesia dialek Jakarta seperti penyebutan kata gue (saya) dan lu (kamu). Selain itu kita sering dengar anak muda mengunakan bahasa Indonesia dengan dicampur-campur bahasa inggris seperti OK, No problem dan Yes’, bahkan kata-kata makian (umpatan) sekalipun yang sering kita dengar di film-film barat, sering diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata ini disebarkan melalui media TV dalam film-film, iklan dan sinetron bersamaan dengan disebarkannya gaya hidup dan fashion . Gaya berpakaian remaja Indonesia yang dulunya menjunjung tinggi norma kesopanan telah berubah mengikuti perkembangan jaman. Ada kecenderungan bagi remaja putri di kota-kota besar memakai pakaian minim dan ketat yang memamerkan bagian tubuh tertentu. Budaya perpakaian minim ini dianut dari film-film dan majalah-majalah luar negeri yang ditransformasikan kedalam sinetron-sinetron Indonesia .
Derasnya arus informasi, yang juga ditandai dengan hadirnya internet, turut serta `menyumbang` bagi perubahan cara berpakaian. Pakaian mini dan ketat telah menjadi trend dilingkungan anak muda. Salah satu keberhasilan penyebaran kebudayaan Barat ialah meluasnya anggapan bahwa ilmu dan teknologi yang berkembang di Barat merupakan suatu yang universal. Masuknya budaya barat (dalam kemasan ilmu dan teknologi) diterima dengan `baik`. Pada sisi inilah globalisasi telah merasuki berbagai sistem nilai sosial dan budaya Timur (termasuk Indonesia ) sehingga terbuka pula konflik nilai antara teknologi dan nilai-nilai ketimuran.
E. TINDAKAN YANG MENDORONG TIMBULNYA GLOBALISASI KEBUDAYAAN DAN CARA MENGANTISIPASI ADANYA GLOBALISASI KEBUDAYAAN
Peran kebijaksanaan pemerintah yang lebih mengarah kepada pertimbangan-pertimbangan ekonomi daripada cultural atau budaya dapat dikatakan merugikan suatu perkembangan kebudayaan. Jennifer Lindsay (1995) dalam bukunya yang berjudul ‘Cultural Policy And The Performing Arts In South-East Asia’, mengungkapkan kebijakan kultural di Asia Tenggara saat ini secara efektif mengubah dan merusak seni-seni pertunjukan tradisional, baik melalui campur tangan, penanganan yang berlebihan, kebijakan-kebijakan tanpa arah, dan tidak ada perhatian yang diberikan pemerintah kepada kebijakan kultural atau konteks kultural. Dalam pengamatan yang lebih sempit dapat kita melihat tingkah laku aparat pemerintah dalam menangani perkembangan kesenian rakyat, di mana banyaknya campur tangan dalam menentukan objek dan berusaha merubah agar sesuai dengan tuntutan pembangunan.
Dalam kondisi seperti ini arti dari kesenian rakyat itu sendiri menjadi hambar dan tidak ada rasa seninya lagi. Melihat kecenderungan tersebut, aparat pemerintah telah menjadikan para seniman dipandang sebagai objek pembangunan dan diminta untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan simbol-simbol pembangunan. Hal ini tentu saja mengabaikan masalah pemeliharaan dan pengembangan kesenian secara murni, dalam arti benar-benar didukung oleh nilai seni yang mendalam dan bukan sekedar hanya dijadikan model saja dalam pembangunan.
Dengan demikian, kesenian rakyat semakin lama tidak dapat mempunyai ruang yang cukup memadai untuk perkembangan secara alami atau natural, karena itu, secara tidak langsung kesenian rakyat akhirnya menjadi sangat tergantung oleh model-model pembangunan yang cenderung lebih modern dan rasional. Sebagai contoh dari permasalahan ini dapat kita lihat, misalnya kesenian asli daerah Betawi yaitu, tari cokek, tari lenong, dan sebagainya sudah diatur dan disesuaikan oleh aparat pemerintah untuk memenuhi tuntutan dan tujuan kebijakan-kebijakan politik pemerintah. Aparat pemerintah di sini turut mengatur secara normatif, sehingga kesenian Betawi tersebut tidak lagi terlihat keasliannya dan cenderung dapat membosankan. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak dikehendaki terhadap keaslian dan perkembangan yang murni bagi kesenian rakyat tersebut, maka pemerintah perlu mengembalikan fungsi pemerintah sebagai pelindung dan pengayom kesenian-kesenian tradisional tanpa harus turut campur dalam proses estetikanya. Memang diakui bahwa kesenian rakyat saat ini membutuhkan dana dan bantuan pemerintah sehingga sulit untuk menghindari keterlibatan pemerintah dan bagi para seniman rakyat ini merupakan sesuatu yang sulit pula membuat keputusan sendiri untuk sesuai dengan keaslian (oroginalitas) yang diinginkan para seniman rakyat tersebut.
Oleh karena itu pemerintah harus ‘melakoni’ dengan benar-benar peranannya sebagai pengayom yang melindungi keaslian dan perkembangan secara estetis kesenian rakyat tersebut tanpa harus merubah dan menyesuaikan dengan kebijakan-kebijakan politik. Globalisasi informasi dan budaya yang terjadi menjelang millenium baru seperti saat ini adalah sesuatu yang tak dapat dielakkan. Kita harus beradaptasi dengannya karena banyak manfaat yang bisa diperoleh. Harus diakui bahwa teknologi komunikasi sebagai salah produk dari modernisasi bermanfaat besar bagi terciptanya dialog dan demokratisasi budaya secara masal dan merata.
Globalisasi mempunyai dampak yang besar terhadap budaya. Kontak budaya melalui media massa menyadarkan dan memberikan informasi tentang keberadaan nilai-nilai budaya lain yang berbeda dari yang dimiliki dan dikenal selama ini. Kontak budaya ini memberikan masukan yang penting bagi perubahan-perubahan dan pengembangan-pengembangan nilai-nilai dan persepsi dikalangan masyarakat yang terlibat dalam proses ini. Kesenian bangsa Indonesia yang memiliki kekuatan etnis dari berbagai macam daerah juga tidak dapat lepas dari pengaruh kontak budaya ini. Sehingga untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap perubahan-perubahan diperlukan pengembangan-pengembangan yang bersifat global namun tetap bercirikan kekuatan lokal atau etnis. Globalisasi budaya yang begitu pesat harus diantisipasi dengan memperkuat identitas kebudayaan nasional. Berbagai kesenian tradisional yang sesungguhnya menjadi aset kekayaan kebudayaan nasional jangan sampai hanya menjadi alat atau slogan para pemegang kebijaksanaan, khususnya pemerintah, dalam rangka keperluan turisme, politik dsb. Selama ini pembinaan dan pengembangan kesenian tradisional yang dilakukan lembaga pemerintah masih sebatas pada unsur formalitas belaka, tanpa menyentuh esensi kehidupan kesenian yang bersangkutan. Akibatnya, kesenian tradisional tersebut bukannya berkembang dan lestari, namun justru semakin dijauhi masyarakat.
Dengan demikian, tantangan yang dihadapi oleh kesenian rakyat cukup berat. Karena pada era teknologi dan komunikasi yang sangat canggih dan modern ini masyarakat dihadapkan kepada banyaknya alternatif sebagai pilihan, baik dalam menentukan kualitas maupun selera. Hal ini sangat memungkinkan keberadaan dan eksistensi kesenian rakyat dapat dipandang dengan sebelah mata oleh masyarakat, jika dibandingkan dengan kesenian modern yang merupakan imbas dari budaya pop. Untuk menghadapi hal-hal tersebut di atas ada beberapa alternatif untuk mengatasinya, yaitu meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM ) bagi para seniman rakyat. Selain itu, mengembalikan peran aparat pemerintah sebagai pengayom dan pelindung, dan bukan sebaliknya justru menghancurkannya demi kekuasaan dan pembangunan yang berorientasi pada dana-dana proyek atau dana-dana untuk pembangunan dalam bidang ekonomi saja









BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pengaruh globalisasi disatu sisi ternyata menimbulkan pengaruh yang negatif bagi kebudayaan bangsa Indonesia . Norma-norma yang terkandung dalam kebudayaan bangsa Indonesia perlahan-lahan mulai pudar. Gencarnya serbuan teknologi disertai nilai-nilai interinsik yang diberlakukan di dalamnya, telah menimbulkan isu mengenai globalisasi dan pada akhirnya menimbulkan nilai baru tentang kesatuan dunia. Radhakrishnan dalam bukunya Eastern Religion and Western Though (1924) menyatakan “untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, kesadaran akan kesatuan dunia telah menghentakkan kita, entah suka atau tidak, Timur dan Barat telah menyatu dan tidak pernah lagi terpisah�. Artinya adalah bahwa antara barat dan timur tidak ada lagi perbedaan. Atau dengan kata lain kebudayaan kita dilebur dengan kebudayaan asing. Apabila timur dan barat bersatu, masihkah ada ciri khas kebudayaan kita? Ataukah kita larut dalam budaya bangsa lain tanpa meninggalkan sedikitpun sistem nilai kita? Oleh karena itu perlu dipertahanan aspek sosial budaya Indonesia sebagai identitas bangsa. Caranya adalah dengan penyaringan budaya yang masuk ke Indonesia dan pelestarian budaya bangsa.
Bagi masyarakat yang mencoba mengembangkan seni tradisional menjadi bagian dari kehidupan modern, tentu akan terus berupaya memodifikasi bentuk-bentuk seni yang masih berpolakan masa lalu untuk dijadikan komoditi yang dapat dikonsumsi masyarakat modern. Karena sebenarnya seni itu indah dan mahal. Kesenian adalah kekayaan bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya dan tidak dimiliki bangsa-bangsa asing. Oleh sebab itu, sebagai generasi muda, yang merupakan pewaris budaya bangsa, hendaknya memelihara seni budaya kita demi masa depan anak cucu.




DAFTAR PUSTAKA
1. Kuntowijoyo, Budaya Elite dan Budaya Massa dalam Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia, Mizan 1997.
2. Sapardi Djoko Damono, Kebudayaan Massa dalam Kebudayaan Indonesia: Sebuah Catatan Kecil dalam Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia, Mizan 1997.
3. Fuad Hassan. “Pokok-pokok Bahasan Mengenai Budaya Nusantara Indonesia”. Dalam Pokok_pokok_bahasan, Mizan 1995
4. Koenjaraningrat. 1990. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.


Senin, 09 Januari 2012

PAI

-->
Pengembangan Media PAI
(Buku Dinasti Abbasiyah)

Untuk Memenuhi Tugas Individu
Dosen Pengampu: Bpk. Sigit Purnama
Nama ; panji siyamto
Nim ; 09540019
 PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH PRODI PERGURUAN
UIN SUNAN KALI JAGA
YOGYAKARTA
2011

BAB I
SEJARAH ISLAM PADA MASA DINASTI ABBASIYAH

1.      Standar Kompetensi

Memahami perkembangan islam pada masa Bani Abbasiyah

2.      Kompetensi Dasar

1.      Menceritakan sejarah berdirinya Daulah Abbasiyah

2.      Mendiskripsikan perkembangan kebudayaan islam pada masa dinasti Abbasiyah

3.      Indikatoor

1.      Menjelaskan latarbelakang terbentuknya dinasti Abbasiyah

2.      Menyebutkan tokoh-tokoh yang berperan dalam pembentukan dinasti Abbasiyah









A.    Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah

1.      Asal-usul Dinasti Abasiyah
Dinasti Abbasiah adalah pemerintahan islan yang berdiri setelah Dinasti Bani Umayyah hancur. Nama Abbasiyah di ambil dari nama paman nabi Muhammad, yaitu Abbas Bin Abdul Muthalib sebagai penghormatan yang diberikan kepadanya dari anak dan cucu beliau yang berhasil membanggun pemerintahan islam, yaitu Daulah Islamiyah Abbasiyah.
            Penggegas pertama bberdirinya dinasti ini adalah Ali bin Abdullah bin Abas bin Abdul Muthalib bin Abdi Manaf bin Hasyim. Para pendiri dinasti ini masih keturunan Bani Hasyim seperti halnya Rasulullah SAW. Saat Rasulullah SAW menyebarkan islam di mekah, antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah kerap terjadi pertentangan dan persaingan dalambidang dakwahnya.
            Setela masa Khalifah Rasyidah berahir pemerintahan islam di bawah kekuasaan Bani  Umayyah. Karena Bani Umayyah menguasai system peralihan kekuasaan islam yang demokratis menjadi dinasti turun-temurun, terlebih lagi perlakuannya para penguasa dan keturunannya yang begitu deskriminatif. Atas alas an itulah, beberapa tokohnya Bani Abbas sangat berambisi untuk merebut kekuasaan dari Bani Umayyah.
2.      Berdirinya Dinasti Bani Abbas ( Daulah Abbasiyah )
Dinasti Abbas ini berdiri melalui proses yang sangatlah panjang dan berliku. Sebelum Dinasti Bani Umayyah digulingkan, Bani Abbas telah memposisikan diri sebagai oposisi yang menyebarkan propaganda anti pemerintahan Bani Umayyah. Salah seorang keluarga Bani Abbas bernama Ali bin Abdullah bin Abbas. Ia sangatlah berambisi untuk merebut kekuasaan dari Bani Umayyah. Sebagai sepupu Rasulullah SAW ia berhak memegang tampuk kekuasaan islam dan ia menggunakan strategi dan taktik yang meski lambat namun pasti.
Ali bin Abdullah melakukan sebuah propaganda anti Bani Umayyah kepada masyarakat luas. Ia pun mendidik para kader dai untukmelancarkan propagandanya. Untuk mendapatkan simpati dari rakyat ia meminta dukungan untuk mengajak seluruh lapisan masarakat untuk membantu keluarga Rasulullah yang telah diperlakukan tidak adil oleh pemerintahan Bani Umayyah. Namun saying, sebelum cita-citanya terwujud ia telah wafat.
Cita-cita Ali bin Abdullah selanjutnya diteruskan oleh putranya yaitu Muhammad bin Ali. Ia melakukan system propagandanya seperti apa  yang telah dilakukan ayahnya. Ia pun menjadikan kota kufah dan khurasan sebagai benteng pertahanan Bani Abas. Usaha tersebut ternyata mendapat dukungan besar dari masyarakat muslim non-arab. Bahkan melalui pimpinan mereka yaitu Abu Muslim Al-Khurasani, mereka siapuntuk mendukunnya. Namun sayang Muhammad bin Ali pun meninggal sebelum Dinasti Abbasiyah terbentuk.
Sepeninggal Muhammad bin Ali, putranya Ibrahim bin Muhammad bertekad melanjutkan perjuangannya. Ia mendapatkan dukungan yang besar dari masyarakat luas, karena mereka yang sangat tertekan atas pemerintahan Bani Umayyah dan ingin menggulingkannya. Atas kegigihannya dalam berusaha dan mendapat dukungan dari kalangan luas, ia dapat menguasai kufah, basrah, mekah, dan madinah. Namun Ibrahim bin Muhammad meninggal di tangan pasukan Umayyah, mereka di kirin karena dianggap sebagai ancaman bagi Umayyah.
Dengan terbunuhnya Khalifah Marwan II, berahirlah kekuasaan dari Umayyah di Damaskus dan berdirilah Bani Abbasiyah. Dengan Khalifah pertama Abu Abbas As-safah yang memerintah tahuh 132-136 H/750-754 M.
Di masa pengejaran dan pembantaian keluarga Bani Umayyah dan para pengikutnya oleh Abu Abbas As-Safah, ada seorang keturunan Bani Umayyah yang berhasil meloloskan diri, yaitu Abdurrahman bin Mu’awiyah bin Hasim bin Abdul Malik, khalifah ke-10 di Damaskus. Yang berhasil masuk ke spanyol dan menaklukkannya. Di sana ia mendirikan Daullah Umayyah II yang berpusat di Andalusia, Spanyol.






B.     Tokoh-Tokoh Yang Berjasa Dalam Pembentukan Dinasti Abbasiyah

1.      Ali bin Abdullah
Namanya Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf Al-Quraisi. Ia termasuk keturunan Hasyim, suku quraisy sama halnya dengan Rasulullah SAW. Karena anak sepupu nabi, ia merasa paling berhak memegang kekuasaan setelah khurafaurasyidin.
Untuk melancarkan upayanya, ia pun mendidikdua belas orang kader dai yang telah di beri pendidikan dan pelatihan. Untuk mendapatkan dukungan dan simpati masyarakat luas, ia meminta kepada para kadernya untuk menyebarluaskan gerakan mendukung keluarga Nabi Muhammad SAW yang telah diperlakukan tidak adil oleh Bani Umayyah. Dalam tengah usahanya ia telah wafat dan diteruskan oleh putranya, Muhammad bin Ali.

2.      Muhammad bin Ali
Kematian Ali bin Abdullah menyalakan semangat Muhammad bin Ali untuk meneruskan cita-citanya. Selain menggandeng kaum mawali ia pun bekerjasama dengan kaum Syi’ah yang menyimpan dendam terhadap Daulah Bani Umayyah.
Pimpinan kaum Mawali, Abu Muslim Al-khurasani, menyatakan dukungannya terhadap Muhammad Aliuntuk menggulingkan kekuasaan Umayyah. Dengan bergabungnya beberapa kelompok oposisi, kekuatan Abbasiyah untuk menggulingkan Umayyah semakin kuat, namun sayang Muhammad bin Ali pun wafat sebelum cita-citanya terwujud.

3.      Ibrahim Bin Muhammad
Ibrahim bin Muhammad yang bercita-cita melanjutkan perjuangan ayah dan kakeknya giat melancarkan propaganda anti pemerintahan Umayyah. Dengan bantuan Abu Muslim Al-Khurasani yang menguasai kaum mawali di khurasan, Ibrahim telah menguasai beberapa kota yaitu khurasan, kufah, mekah, dan madinah.
Di anggap senbagai pemberontak oleh pemerintah Umayyah, ahirnya ia pun ditangkap oleh pasukan Umayyah dan ia terbunuh.

4.      Abu Abbas As-Safah
Ia adalah adik dari Ibrahim bin Muhammad. Abu Abas As-Safah merupakan salah seorang yang paling berperan dalam pembentukan Daulah Bani Abbas. Bersama adiknya, Abu Ja’far Al-mansyur dan di bantu oleh panglima khurasan yang pemberani. Abu Muslim, merekamenghancurkan kekuatan Umayyah yang terahir hingga mampu membunuh khalifah Marwan. Abu Abas adalah seorang khalifah abbasiyah pertama. Ia di nobatkan sebagai khalifah setelah berhasil memenangkan melawan Umayyah. Nama aslinya adalah Abdullah bin Muhammad  bin Ali bin Abdullah bin Abbas. Nama As-safah berarti ‘haus darah’ adalah gelar yang diberikannya karena kebijakannya selaku khalifah pertama Dinasti Abbasiyah.
5.      Abu Ja’far Al-Mansyur
Abu Ja’far Al-manshur adalah saudara Abu Abbas As-Safah. Ia tarmasuk salah seorang pendiri Daulah Abbasiyah. Bersama Abu Abbas dan Abu Muslim Al-Khurasani, ia memimpin pasukan melakukan pemberontakan terhadap penguasa Bani Umayyah hingga berhasil di bunuh dan digulingkan kekuasaannya. Ia adalah seorang politikus ulung, panglima perkasa dan pemberani, dan orang yang teguh pendirian. Karena jasanya yang sangat besar terhadap pembentukan Daulah Bani Abbasiyah, ia pantas dijuluki “bapak dinasti Bani Abbas”.
6.      Abu Muslim Al-Khurasani
Ia adalah pemimpin gerakan agama dan politik di Khurasan, Persia (Iran) yang paling berjasa kepada Bani Abbas dalam usaha menumbangkan Dinasti Bani Umayyah. Nama aslinya adalah Abdurrahman bin Muslim, akrab dengan panggilan Abu Muslim. Al-Khurasani dinisbahkan kepada daerah Khurasan. Perannya dalam pembentukan Dinasti Bani Abas, sebagaimana telah diterangkan terdahulu, adalah membantu Ibrahim bin Muhammad bin Ali Al-Abasy dan menyebarkan propaganda anti-Bani Umayyah. Ia berhasil menarik simpati masyarakat Khurasan, bahkan para tuan tanah daerah itu, untuk bergabung dengan Bani Abbasdalam rangka menumbangkan Bani Umayyah. Namun sayang dengan pengorbanannya yang besar malah dib alas dengan pembunuhan atas dirinya oleh khalifah kedua Bani Abbas yaitu Abu Ja’far Al-Manshur.


C.     Periodikasi Kekuasaan Dinasti Abasiyah
Keberadaan Daulah Abbasiyah berlangsung sampai tahun 656 H/1258 M. masa yang panjang itu dilaluinya dengan pola pemerintahan yang berubah-ubah sesuai dengan perubahan politik, social, budaya, dan penguasa. Berdasarkan pendekatan dan pola perubahan politik itu, juga mengingat masa berkuasa Daulah Abbasiyah cukup lama para sejarawan membagi masa kekhalifahan Bani Abbasiyahkepada empat periode.
1.      Periode Abbasiyah I (132-232H/750-847M)
Periode pertama berlangsung selama 97 tahun dan dipimpin oleh Sembilan orang khalifah. Periode ini disebut dengan periode keemasan Daulah Abbasiyah. Bahkan dapat dikatakan sebagai periodi keemasan islam di dunia.
Para khalifah-khalifah yang mamimpin Daulah Abbasiyah I :
1.      Abdul Abbas As-Safah (132-136 H/750-754 M)
2.      Abu Ja’far Al-Manshur (136-158 H/754-775 M)
3.      Al-Mahdi (158-169 H/775-785 M)
4.      Musa Al-Hadi (169-170 H/785-786 M)
5.      Harum Ar-Rasyid (170-193 H/786-809 M)
6.      Al-Amin (193-198 H/809-813 M)
7.      Abdullah Al-Makmun (198-218 H/813-833 M)
8.      Al-Mu’tasim Illah (218-227 H/833-842 M)
9.      Al-Watsiq (227-232 H/842-847 M)

2.      Periode Abbasiyah II (232-334 H/847-946 M)
Periode ini berlangsung selama 99 tahun, dipimpin 13 khalifah.periode ini dikatakan sebagai awal kelemahan Dinasti Abbasiyah. Banyak daerah kecil yang berusaha melepaskan diri dan tidak mampu di atasi. Factor lain yang menyebabkan kemunduran yaitu:
·         Luasnya wilayah yang harus dikendalikan sedangkan organisasi dan komunikasinya rapuh.
·         Ketergantungan terhadap tentara sangat tinggi, sehingga menurunkan semangat rakyat dalam pembelaan Negara.
·         Kesulitan keuangan karena beban biaya tentara sangat tinggi.
Dinasti Abbasiyah II
1.      Al-Mutawakkil (232-247 H/847-861 M)
2.      Al-Muntashir (247-248 H/861-862 M)
3.      Al-Musta’in (248-252 H/862-866 M)
4.      Al-Mu’taz (252-255 H/866-869 M)
5.      Al-Muhtadi (255-256 H/869-870 M)
6.      Al-Mu’tamid (256-279 H/870-892 M)
7.      Al-Mu’tadhin (279-289 H/892-902 M)
8.      Al-Muktafi (289-295 H/902-908 M)
9.      Al-Muqtadi (295-320 H/908-932 M)
10.  Al-Qahir (320-322 H/932-934 M)
11.  Al-Radhi (322-329 H/934-940 M)
12.  Al-Muttaqi (329-333 H/940-944 M)
13.  Al-Mustakfi (333-334 H/944-945 M)

3.      Periode Abbasiyah III
Pada periode ini, Daulah Abbasiyah berada di bawah kekuasaan Bani Bawaihi, yaitu para penganut aliran syi’ah yang berhasil mendirikan dinasti di sebelah barat laut iran. Ketika mereka bertambah besar, rakyat sepennuhnya dikuasai oleh mereka. Orang terkemuka di baghdad mempersilakan mereka ke Baghdad. Khalifah Al-Mustakfi tidak bias berbuat apa-apa.
Kkhallifah yang berkuasa diperiode ini adalah:
1.      Al-Mu’thi (334-363 H/946-974 M)
2.      Al-Thai (363-381 H/974-991 M)
3.      Al-Qadir (381-422 H/991-1031 M)
4.      Al-Qayyim (422-467 H/1031-1075 M)
5.      Al-Muqtadi (467-487 H/1075-1094 M)

4.      Periode Abbasiyah IV (487-656 H/1094-1258 M)
Periode ini berlangsung selama 164 tahun. Jika pada periode sebelumnya kekuasaan Abasiyah berada dibawah kendali Bani Buwaihi, maka pada periode ini berada pada kekuasaan kaum Saljuk dari Turki. Saljuk adalah nama keluarga penguasa suku-suku Oghuz di Turki. Namun Saljuk adalah nama suku yang diambil sebagai penghormatan nenekmoyang mereka bernama Saljukbin Yakak.
Yang memimpin Dinasti Abbasiyah pada periode ini adalah:
1.      Al-Mustadzir (487-521 H/1096-1118 M)
2.      Al-mustarsyid (521-529 H/1118-1135 M)
3.      Ar-Rasyid (529-530 H/1135-1136 M)
4.      Al-Muktafi (530-555 H/1136-1160 M)
5.      Al-Mustanjid (555-566 H/1160-1170 M)
6.      Al-Mustadhi (566-575 H/1170-1180 M)
7.      An-Nasir (575-622 H/1180-1225 M)
8.      Az-Zahir (622-623 H/1225- 1226 M)
9.      Al-Mustanhir (623-640 H/1226-1242 M)
10.  Al-Musta’shim (640-656 H/1242-1258 M)
Dari keempat periode ini, Dinasti Bani Abbasiyah melahirkan 37 orang khalifah. Banyak kemajuan yang telah diraih oleh dinasti ini diberbagai bidang peradaban, ilmu pengetahuan, militer, ekonomi, social, arsitektur, dan sebagainya. Dari ke-37 khalifah yang memimpin Dinasti Abbasiyah, hanya Sembilan khalifah periode pertama yang paling banyak jasanya. 





RANGKUMAN
·         Daulah Abbasiyah di dirikan oleh bani Abbas tahun 132 H/750 M setelah mereka mneggulingkan daulah umayyah di damaskus.
·         Nama Abbasiyah di ambildari nama leluhur mereka yaitu Abbas bin Abdul mutholib, paman nabi Muhammad SAW
·         Dalma usahanya membangun dinasti, bani Abbas banyk dibantu oleh masyarakat muslim bukan arab (mawali) dan kaum Alawiyyin.
·         Tokoh-tokoh yang berperan dalam mendirikan daulah Abbasiyah adalah Ali bin Abdullah, Muhammad bin Ali, Ibrahim bin Ali, Abu Abbas As-Safah, Abu Ja’far Almansyur, dan Abu muslim Al khuraisani.
·         Peran yang diberikan oleh para tokoh pendiri Daulah Abbasiyah adalah sebagai propagandis gerakan anti Umayyah sehingga menjalankan pemberontakan yang menggulingkan kekuasaan bani Umyyah di damaskus.
·         Keberadaan daulah Abbasiyah berlangsung sampai tahun 656 H/1258 M. Masa yang panjang itu dilalui dengan pola pemerintahan yang berubah-ubah sesuai dengan perubahan politik, sosial, budaya, dan penguasa. Para sejarawan membaginya dalam 4 periode









EVALUASI MATERI

1.      Apa yang dimaksud dengan Daulah Abasiyah?
2.      Kenapa kaum Mawali dan kaum Alawiyyin memberikan dukungan besar terhadap gerakan anti-Bani Abbasiyah?
3.      Apa alas an Abu Ja-far Al-Manshur membunuh Abu Muslim Al-Khurasani yang memiliki jasa besar dalam pendirian Daulah Abbasiyah?
4.      Sebutkan factor-faktor yang mempengaruhi lemahnya kekuasaan Daulah Abbasiyah pada periode II?
5.      Jelaskan cirri khusus yang mewarnai kekuasaan Daulah Abbasiyah di periode IV?